Die Zwei ist Zweifel, Zwist, ist Zwietracht, Zwiespalt, Zwitter, Zwitter
Die Zwei is Zwillingfrucht am Zweige, sub and bitter
(Dua adalah keraguan, perpecahan, perselisihan, pertikaian, wadam,
Dua adalah buah kembar di ranting, manis dan pahit.)
Ruckert merangkai kata-kata cerdas ini dalam epos didaktiknya, The Wisdom of the Brahim, untuk menunjukkan banyaknya karakteristik negatif yang dimiliki oleh angka 2. Dalam tradisi-tradisi keagamaan, 2 berarti perpecahan, terbelahnya Keesaan suci yang absolut, dan karenanya merupakan bilangan yang menyangkut dunia makhluk: "makhluk itu dengan sendirinya berwatak ganda" sebagaimana kata Valentin pada abad ke-16.
Dalam setiap aspek kehidupan, kita melihat kuatnya peran dikotomi, dyad (sepasang unit yang dianggap satu-penerj.), dan struktur ganda. Sekalipun demikian, ketiganya tidak mesti mengacu pada perselisihan yang sepenuhnya bersifat negatif. Setiap kemungkinan percakapan, yakni menyapa seseorang dengan selain dirinya, mengandung ketegangan antara Aku dan Engkau, sebuah ketegangan yang bisa membuahkan manfaat juga petaka. Garis, sebagai ungkapan geometris bilangan 2, memisahkan sekaligus menyatukan.
Banyak bahasa yang mempunyai bentuk gramatikal dwirangkap. Persoalan ini diangkat menjadi tema sebuah artikel yang ditulis oleh seorang pemikir Jerman, Wilhelm von Humboldt, pada awal tahun 1828. Dwirangkap yang menunjukkan hubungan antara dua individu tetapi bukan antara si Aku dan kelompok lebih besar ini telah muncul sejak zaman purbakala dan sisa-sisanya masih bisa dijumpai dalam dialek-dialek Jerman tertentu, terutama di beberapa daerah di Westphalia dan Bavaria-Austri. Di sini, sebagaimana dalam beberapa bahasa Slavic, dwirangkap itu khususnya terjadi dalam kata ganti personal. Bahasa Arab, sebagai sebuah tradisi linguistik Semitik, tetap sepenuhnya mempertahankan bentuk-bentuk ganda, sementara bahasa Ibrani modern telah membuangnya meskipun bentuk-bentuk ganda tersebut masih bisa di temukan di dalam Kitab Perjanjian Lama.
Pertentangan antara Aku dan Engkau pada dasarnya mengandung sebuah oposisi, dan oposisi seperti ini menjadi lebih nyata ketika Aku manusia dipertentangkan dengan Engkau yang Absolut, khusus dan suci. Seperti kita lihat di atas, kiranya mustahil untuk menunjuk sesuatu yang bersenang-senang bertentangan dengan Tuhan absolut. Di sini, angka 2 menjadi sebuah angka kontradiksi dan antitesis dan, secara logis, bukan-Tuhan. Karena menuai perselisihan, angka ini jarang dipakai dalam dunia magis.
Setelah membaca uraian di atas, kita tidak bisa menganggap persamaan matematika 1 + 1 = 2, karena dari sudut pandang esoteris dan mistis, hanya ada Yang Esa, yang tidak mungkin ditambah atau dikalikan. Jika satu dwa ditambah dewa lain sama dengan 2 dewa, maka keduanya tidak bisa lag disebut sebagai Yang Esa ideal, abadi, dan khusus. karenanya, dari kaca mata agama dan magis, 2 selalu menjadi simbol pertentangan antara dua unit yang bersifat relatif, bukannya dua unit yang absolut. Lagi-lagi Agrippa dari Nettesheim memberikan sebuah deskripsi amat bagus tentang keanehan-keanehan religius angka2:2 adalah "angka manusia, yang disebut 'lainnya,'" dan 2 adalah angka dunia rendah. Angka ini juga adalah angka perkelaminan dan kejahatan, karena, sebagaimana ditegaskan oleh semua penafsir Injil, dalam kisah penciptaan di Kitab Kejadian ungkapan "dan angka 2 itu dulunya baik" tidak dijumpai pada hari kedua. Oleh karenanya, diyakini bahwa "setan-setan yang menakutkan" dan "ruh-ruh jahat yang menggangu para pengelana" berada di bawah kekuasaan angka 2. Fakta bahwa "yang kedua" adalah andra ("yang lain") dalam bahasa-bahasa Skandivaida, sangat sesuai dengan rumusan Agrippa yang menempatkan makhluk-makhluk sebagai "yang lain" terhadap Tuhan.
Dua ada hanya dengan makhluk, karena tanpa polaritas, kehidupan material tidak akan ada. Seperti hanya arus listrik mempunyai kutub positif dan negatif, serta binatang hidup terus menghirup dan menghembuskan nafas melalui aktivitas jantung yang berkontraksi dan berelaksasi, angka 2 terkait dengan semua manifestasi di dunia makhluk. Seperti ditulis dengan citra yang sepenuhnya Islami oleh Goethe, yang seluruh karyanya menunjukan pengetahuan tentang misteri polaritas:
Im Atemholen sind Zweierlei Gnaden ...
Du danke Gott, wenn er dich presst
Und danke' ihm, wenn er dich wieder entlasst.
(Ada dua keanggunan ketika bernafas ...
engkau harus bersyukur ketika Dia menyempitkanmu
dan melapangkanmu.)
Ungkapan di atas memperbincangkan keadaan-keadaan flukuatif qabdh, "kesempitan," "tekanan," dan basth, "kelegaan," "kelapangan," seperti pengalaman-pengalaman yang dialami oleh kaum sufi di dunia Islam dan diungkapkan dengan citra-citra yang selalu baru. Seperti halnya perasaan khawatir tidak bisa dipahami tanpa perasaan berpengharapan, kesempitan dan kelapangan pastilah merupakan dua sisi yang tak terpisahkan. Agar dikenal dan diketahui, Tuhan Yang Mahaesa memanifestasikan diri-Nya dalam apa yang disebut oleh Rudolf Otto sebagai mysterium tremendum dan mysterium fascinans. Ide ini telah dikenal dalam tradisi Islam sejak berabad-abad silam, karena kaum Muslim berpandangan bahwa Tuhan memanifestasikan diri-Nya melalui keindahan dan kelembutan-Nya (jamal), serta keagungan dan kekuasaan-Nya (jalal) yang mengacu pada kesempurnaan khas dan tak terlukiskan di mana semua pertentangan menyatu.
Sebagaimana mistikus Cabalistik itu, para sufi Muslim mengibaratkan dunia ciptaan sebagai huruf kedua dalam alfabet Arab, yakni b, yang dalam bahasa Ibrani dan Arab mempunyai nilai numerik 2. Seperti halnya Injil yang diawali dengan b'reshit, "Pada awalnya ...," kata-kata pertama dalam Alquran adalah Bismillah, "Dengan menyebut nama Allah ...," dengan demikian, dalam kedua Kitab Suci ini, huruf pertamanya adalah huruf penciptaan, b.
Seorang penyair besar Persia, Jalaluddin Rumi, yang membandingkan kata-penciptaan Allah kun (dalam bahasa Arab tertulis KN) dengan sebuah tali terpilin dari dua benang (yang dalam bahasa Inggris disebut twine dan dalam bahasa Jerman Zwirn, yang keduanya berasal dari kata dasar two), menciptakan sebuah simbol dualitas yang indah dalam diri makhluk. Benang terpilin ini terlihat dalam semua manifestasi makhluk, tetapi orang-orang bodoh yang terjerumus untuk mempercayai keanekaragaman tertipu olehnya, sementara orang-orang arif mengetahui bahwa Keesaan tersembunyi di balik keanekaragaman yang kasat mata.
Barangkali cara paling cerdas untuk menunjukan adanya polaritas dasar yang menjadi sandaran kehidupan adalah mengamati yin dan yang dalam agama Cina sebagai ungkapan dari sifat aktif dan pasif, laki-laki dan perempuan, orangtua dan anak, api dan air, siang dan malam, dan semua hubungan komplementer yang ada. Hubungan-hubungan ini luar biasa subtil dan muncul dalam hubungan-hubungan kosmis dan manusia. Sang Mahawujud dan Mahakuasa tampak dalam prinsip yang, sementara rembulan, air, dan ratu tampak dalam prinsip yin. Yin dan yang selalu hadir bersama dan tak terpisahkan, karena mustahil membuat pilihan bagi Yang Esa absolut: kata "wanita" pastilah menyertaka ide "pria," sebagaimana halnya "sehat" memisalkan adanya "sakit."
Karena realitas kejahatan menjadi kesan yang sangat kuat, sebagian agama mengembangkan sebuah pandangan-dunia dualistik. Contoh yang paling terkenal dan masih hidup adalah Zoroastrianisme, agama Iran kuno, dengan sepasang dewanya yang saling bertentangan : Ahura Mazda sebagai dewa terang dan kebaikan dan Ahriman sebagai dewa kegelapan dan kejahatan. Bagi kaum Zoroastrian, segala sesuatu di dunia ini adalah milik dari salah satu kekuatan itu. Hanya saja, dalam sistem-sistem gnostik terkemudian, khususnya Manicheisme, prinsip kebaikan secara eksklusif tertambat pada ihwal spiritual, sementara prinsip kejahatan melekat pada segala sesuatu yang bersifat material. Oleh karena itu, jiwa berusaha menjauhi penjara dunia dan tubuh yang jahat dan material.
Karena angka 2 berarti penghancuran kesatuan wujud primordial dan menunjuk pada alienasi makhluk dari sumber tertingginya, agama-agama yang berorientasi mistis lebih menekankan aspek-aspek negatifnya. Sementara itu, agama-agama "profetik" menemukan nilai positif dalam ketegangan antara Yang Satu dan banyak, Sang Pencipta dan makhluk, karena tujuan agama-agama ini bukanlah unifikasi makhluk dengan Tuhan Yang Mahaesa (seperti tetes hujan yang lenyap dalam lautan), tetapi dialog kretif dan kesadaran aka hubungan antara Aku dan Engkau dalam doa. Keterpisahan ini dan ungkapan kerinduannya beserta pengembaraan tanpa akhir, yang muncul dari pengetahuan bahwa keterpisahan antara Yang Abadi dan makhluk yang tercipta dalam dimensi waktu tidak bisa dipertahankan, telah menjadi inspirasi bagi banyak penyair di Timur dan Barat. Seorang penyair Jerman, Rudolf Alexander Schroeder (w.1962), menulis, misalnya:
Ich mochte Din nimmer so nah sein,
Dab ich mich nach Dir nicht sehnte...
(Aku tidak akan mendekati Engkau sedekat-dekatnya
hingga aku berhenti merindukan-Mu...)
Sama halnya, salah seorang pemikir Muslim yang sedikit lebih awal dari Schroeder, yakni Muhammad Iqbal (w.1938), dalam citra yang benar-benar baru mengekspresikan makna kerinduan, yang dianggapnya sebagai bunga api kreatif manusia yang sesungguhnya dan berbeda dengan kesunyian abadi kesatuan mistis yang menurutnya berbahaya dan tidak produktif. Akan tetapi, kerinduan untuk menyatukan kembali apa yang telah dipisahkan oleh laku penciptaan merasuk kedalam kebanyakan agama. Dan Goethe kepada kekasihnya berharap bahwa "kata kedua 'Jadilah!' tidak akan memisahkan kita dari waktu kedua" (Undein zweites Wort "Es werde!" / Trenn uns nicht zum zweitenmal...).
Dalam banyak kebudayaan, hubungan seksual ditafsirkan sebagai cara untuk mengatasi oposisi polar antara laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, dalam tradisi Tantra Hindu dan Buddha, orang berusaha mencapai pengalaman dengan Keesaan absolut melalui praktik-praktik seksual. dalam ajaran Hindu, bahkan dewa membutuhkan shakti-nya, kekuatan femininnya. Dalam teks-teks mistikofilosofis terdalam dan pada umumnya agak abstrak, seperti Upanishad, pengalaman unio mystica sebanding dengan perpaduan cinta pria dan wanita: "Sebagaimana seseorang yang dipeluk oleh kekasih wanitanya tidak lagi mengetahui apa yang ada di dalam dan di luar," seorang mistikus, yang dipeluk oleh keesaan absolut, tidak lagi, mengenal dualitas antara dewa dan makhluk. Dalam tradisi Yahudi, kaum Cabali juga berbicara tentang herios gamos, perpaduan suci antara kekuatan maskulin dan feminin yang di lambangakan dengan pasangan-pasangan yang memberi dan menerima potensi dalam keesaan Tuhan. Ini tampak jelas dalam kombinasi sefira kesembilan, Yesod< dan kesepuluh, Shekhinah.
Oleh karena itu, tidaklah mengherankan bahwa, dalam banyak tradisi agama, manusia primordial dicitrakan dengan sifat androgini (dalam bahasa Jerman, Zwitter, yang berasal dari kata "dua"). Ada sekelompok patung Hindu yang menggambarkan dewa setengah laki-laki dan setengah perempuan. Menurut Tacitus,bahkan di dalam agama Teutonic kuno terdapat sebuah wujud androgini yang dinamakan Twisto, yang dianggap sebagai bapak dari Manno, manusia "laki-laki". Wujud seperti ini, yang dipandang sebagai salah satu kesempurnaan, disinggung dalam sebuah agrafon Yesus yang dikutip oleh Clement dari Alexandria, "Kemudian Salome bertanya kepada Yesus: 'Kapan kerajaanmu datang?' Dan Tuhan menjawab, 'Ketika dua menjadi satu, ketika laki-laki menjadi perempuan, dan ketika tidak ada perempuan lagi." Dengan kata lain, kerajaan Tuhan akan berdiri kembali ketika dualitas telah lenyap. Dualitas muncul, sebagaimana dikisahkan dalam Taurat dan Cabala, karena manusia makan dari pohon pengetahuan dan lantas mengetahui eksistensi kebaikan dan kejahatan, kehidupan dan kematian, serta seksualitas. "Engkau telah membahayakan dirimu," kata Zohar, teks pokok dalam Cabala, "karena segala sesuatu yang berasal dari pohon pengetahuan mengandung dualitas."
Gereja Kristen juga mempunyai interpretasi negatif atas angka 2, yang dipandang sebagai penyimpangan dari ketunggalan, dari kebaikan pertama. Bukankan tertulis dalam Injil bahwa 2 binatang kotor dari setiap ras diselamatkan ke dalam bahtera Nabi Nuh? Selain itu, 2 adalah angka yang diasosiasikan dengan kaum ahli bid'ah, yang, didalam kata-kata Gregorius Agung, duplex cor, yang memiliki dua hati dan, karenanya. tidak mengikuti Injil dengan sepenuh hati.
Sesungguhnya, hubungan antara 2 dan ketakterandalan dijumpai dalam banyak kebudayaan dan dimulai dengan Janus bermuka dua di Roma kuno. Dalam kebudayaan Persia, berwajah-dua berarti "palsu" dan berwarna-dua berarti "hipokrit," sementara orang-orang Arab menyebut seorang hipokrit sebagai "ayah berlidah dua," atau "berlidah dua," seperti kata dalam bahasa Jerman doppelzungig. Segala sesuatu yang ambivalen dan ambiug, seperti ditunjukan oleh kata ambi ("keduanya"), termasuk dalam wilayah yang tidak pasti (atau twilight 'temaram') sebagai suatu di-lemma.
Akan tetapi, angka 2 juga mempunyai sifat positif. Misalnya, dalam penafsiran Kristen Abad Pertangahan, angka ini menunjuk pada dua perintah untuk mencintai Tuhan dan mengasihi tetangga. Sifat positif lainnya adalah 2 lembar yang berisikan Sepuluh Perintah, yang berarti dua ciri kewajiban manusia pada Tuhan dan tetangga. Secara lebih luas, kehidupan beragama dapat dibagi menjadi vita contemplativa dan vita activa, yang dipersonifikasikan dengan Rachel dan Leah dalam Kitab Perjanjian Lama, serta Mary dan Martha dalam Kitab Perjanjian Baru. Di lingkungan Cabalis Isaac Luria, Leah, dan Rachel dianggap sebagai dua aspek dari Shekhinah, yang mengeluh selama pembuangannya sebelum menyatu dengan Tuhan.
Dalam agama yang dianut masyarakat luas, khususnya di Timur, kita menjumpai adanya perasaan takut pada angka 2: orang tidak boleh melakukan 2 hal secara bersamaan, menikahkan 2 pasangan pada hari yang sama, atau menikahkan 2 orang kakak beradik laki-laki dengan 2 kakak beradik perempuan. Dua keluarga dekat tidak boleh tinggal dala satu rumah. Hukum Yahudi melarang manusia untuk berjalan melewati diantara 2 perempuan, 2 anjing, atau 2 babi, dan 2 orang laki-laki tidak boleh membiarkan binatang-binatang ini melewati mereka berdua. Para petani Kristen di Mesir tidak pernah membaptis 2 anaknya pada hari yang sama di gereja yang sama pula, karena dikhawatirkan salah seorang di antaranya akan meninggal. Takhayul-takhayul serupa dijumpai di bagian-bagian wilayah Balkan tertentu, yang masyarakatnya meyakini bahwa 2 orang tidak boleh minum pada saat bersamaan dari sumber air yang sama.
Karena adanya perasaan tidak suka pada dua penampakan atau tindakan sama, orang meyakini bahwa dua orang kembar dikelilingi dengan sebuah aura misteri, dan dalam sejumlah peradaban kuno dua orang kembar, atau setidaknya salah satu dari mereka, dibunuh. Di antara beberapa orang India Pantai Barat Laut, orangtua si kembar hanya mematuhi tabu-tabu tertentu, karena diyakini anak kembarnya menguasai air, hujan dan angin, dan keinginan-keinginan mereka dikabulkan oleh kekuatan-kekuatan supranatural. Di antara suku-suku Bantu tertentu, anak kembar dianggap membawa hujan.
Makna khusus angka 2 juga tampak dalam bentuk-bentuk linguistik: selain disebut ganda, kelompok-kelompok yang beranggotakan 2 sering diberi nama khusus yang dimuali dengan twins (Jerman: Zwillinge). Dua banteng disebut kuk (yoke, Jerman: ein Joch Ochsen), dan 2 ekor ayam hutan adalah sepasang (brace); orang menyebut sepasang sepatu dan sepasang benda, dan tentu saja duo dan duet dalam musik. Kata dalam bahasa Jerman Zweifel, "Keraguan" berasal dari kata two, "dua," sedangkan dalam bahasa Latin du-bius dan turunan-turunanya, termasuk kata doubt (keraguan). Banyak sekali kata gabungan yang berasal dari kata-kata dalam bahasa Latin di- atau dis-, seperti dispute, discord, atau disagreement, menunjuk pada sifat pembagian (divisive) angka 2.
Meskipun dualitas dan, dalam arti positif, polaritas diperlukan bagi kelangsungan hidup, dalam pandagan-dunia para numerolog, angka 2 cenderung bersifat negatif, menimbulkan perpecahan dan pembagian (Zwietracht dan Entzweiung dalam bahasa Jerman), dan kekuatan lain diperlukan untuk mengatasi dunia yang pecah ini. Oleh karena itu, kita beranjak dari kesederhanaan suci, Einfalt, melalui Zweifel, keraguan menuju Trinitas.