Satu merembes ke setiap angka. Satu adalah ukuran umum bagi semua angka. Satu mengandung semua angka dalam dirinya, tetapi mementahkan perkalian. Satu selamanya sama dan tidak berubah; itulah sebabnya satu mempertahankan dirinya sebagai hasil dari perkalian dari dirinya sendiri. Meskipun tidak mempunyai bagian, satu bisa dibagi. Akan tetapi, bila dibagi, satu tidak menjadi bagian-bagiannya, melainkan menjadi unit-unit baru. Diantara unit-unit ini tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil dari pada keseluruhan unit, dan setiap unit terkecil lagi-lagi tercakup dalam keseluruhannya.
Gambaran tentang sifat-sifat Satu mistis ini, yang ditulis oleh seorang mistikus Jerman Abad Pertengahan, Aggripa, dari Nettesheim pada sekitar tahun 1500, secara matematis tidak benar, tetapi menunjukan pentingnya angka 1 dalam tradisi-tradisi religius.
Pandangan-pandangan mistis semacam itu dikenal luas dalam tradisi India kuno, yang mengklaim bahwa asas primordial dan berdaya tembus ke segala sesuatu adalah yang Esa tanpa ada duanya. Dan kata-kata serupa diucapkan Plotinus (w.270), pemikir Neoplatonik paling berpengaruh pada zaman kuno akhir, yang ide-idenya menjadi dasar bagi perkembangan mistisisme dalam tradisi Yahudi, Kristen dan Islam. Baginya, Tuhan Esa melampaui semua bentuk, karena bentuk-bentuk selalu berarti keanekaragaman. Karena setiap keanekaragaman merupakan sebuah keanekaragaman dari keesaan-keesaan, keanekaragaman memisalkan keesaan itu sendiri. Dan karena Tuhan adalah asal-mula dan persangkaan dari segala sesuatu, Dia adalah Keesaan absolut.
Agama Cina kuno mempunyai ide-ide serupa tentang angka 1, yang merepresentasikan Yang Semua, Yang Sempurna, Yang Mutlak yang melampaui seluruh polaritas.
Satu adalah simbol ideal dari Tuhan karena Tuhan adalah ruh dan, dengan sendirinya, tidak mempunyai sifat-sifat material, yang melekat pada keanekaragaman. Angka 1 tidak mempunyai lawan, dan bahkan prinsip negatif yang tampaknya bertentangan dengan Ketuhanan, pada akhirnya, batal atau menyatu dengan Keesaan. Sebagaimana angka 1, Tuhan adalah Satu Absolut serta Satu yang khas Wujud-Nya.
Para pemikir Upanishad India berusaha mencari Keesaan di balik beragam manifestasi yang dianggap sebagai sekadar penampakan, cara bertindak, atau bahkan fantasi yang menipu di hadapan yang Esa, atau sebagai permainan yang menutupi Keesaan esensial. "Para penyair menyebut yang Esa, satu-satunya, dengan kata-kata 'pipa bermulut banyak.' Satu adalah api yang menyala dalam banyak sekali bentuk; Satu adalah matahari yang menerangi dunia," kata seorang pendeta India. Penyair-orientalis Jerman, Ruckert, mengungkapkan ide-ide serupa dalam puisi didaktiknya, Die Weisheit des Brahmanen (Kearifan Sang Brahman), yang menyadur kalimat terakhir dari Alquran surah al-Ikhlas [112] yang secara ringkas menunjukan keesaan Tuhan:
So wahr als aus der Eins die Zahlenreihe fliebt,
So wahr ays einem Keim des Baumes Krome spriebt,
So wahr erknnest du, dab der ist einzig Einer,
Aus welchem alles ist, und gleich ihm ewig keiner.
(Sebenar-benarnya untaian bilangan berwal dari 1,
Sebenar-benarnya mahkota daun sebuah pohon tumbuh dari sebenih biji,
Sebenar-benarnya pengetahuanmu adalah bahwa Dia adalah esa dan istimewa,
Dia, yang menciptakan segala sesuatu dan tidak ada yang menyamai atau abadi seperti-Nya.)
Mencapai Keesaan yang tersembunyi di balik beraneka ragam manifestasi dan mengidentikkan diri dengan-Nya adalah tujuan dari mistisme, sebagaimana ungkapan klasik dalam Upanishad: aham brahmasmi, "Aku adalah Brahma." Namun, di samping monoteisme mistis inklusif ini, ada juga monoteisme lain bersifat "profetik" atau eksklusif. Monoteisme yang disebut terakhir ini adalah bentuk keberagaman yang secara sangat jelas terlihat dalam Yahudi dan Islam (kaum monoteis yang sangat keras memandang agama Kristen, beserta doktrin Trinitasnya, bukan sebagai monoteisme sejati). Monoteisme seperti ini kemungkinan berasal dari henoteisme, yakni pemujaan kepada satu dewa khusus yang lebih tinggi dari dewa-dewa lainnya dan lebih dipuja daripada lainnya oleh hamba-hambanya. Namun, Yahweh Taurat mengajarkan kepada para nabi-Nya bahwa Dia yang Esa adalah satu-satunya Tuhan, Tuhan pencemburu yang tidak mengampuni penyembahan kepada selain Dirinya. Sama halnya, pengakuan iman Islam menegaskan bahwa "Tidak ada Tuhan selain Allah," dan "Tuhan" di sini dapat diinterprestasikan sebagai segala sesuatu yang membelokkan manusia dari kepasrahan mutlak (islam) kepada Sang Pencipta, Sang Pemelihara, dan Sang Hakim. Yang jelas, dalam Yahudi dan Islam berkembang kesalihan yang lebih mistis dan inklusif, yang bisa dipelajari dalam Cabala (Yahudi) di satu sisi dan dalam tradisi sufi (Islam) di sisi lain (khususnya dalam mazhab Ibn 'Arabi); keduanya sama-sama menunjukan kecenderungan Neoplatonik. Pada titik ini, pernyataan yang tegas dan jelas bahwa "Tidak ada Tuhan selain Allah" bisa diungkapkan dengan formula "Tak ada sesuatu apa pun selain Allah," dan penciptaan dari ketiadaan oleh kata-penciptaan Allah diinterpresentasikan sebagai ajaran misterius tentang emanasi dari Yang Mahaesa.
Monoteisme profetik tidak terbatas pada kaum Semitik. Pada abad ke-14 S.M., raja Mesir, Amenhotep IV, mempermaklumkan sebuah agama monoteistik yang berpegang pada matahari sebagai dewa utamanya. Namun, pendapat bahwa urmonotheism mendahului semua bentuk keagamaan lainnya tidak bisa dipertahankan lagi, betapapun banyak bukti material tentangnya dikumpulkan oleh seorang tokoh pembelanya, Pater Wilhelm Schmidt.
Agama Kristen, meski dipandang dengan perasaan curiga oleh agama-agama monoteistik yang tegas, yakni Yahudi dan Islam, sesungguhnya tetap menomorsatukan Yang Maha Esa. Coba perhatikan kutipan dari Surat Paulus kepada Jemaat di Efesus (4:5) dalam Perjanjian Baru, "Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan, satu Allah, dan Bapa dari semua." Dan sebagaimana kata Romo Bede, sebuah gereja di Yerusalem melambangkan sebuah rumah abadi bagi semua yang mengimaninya.
Seorang mistikus Protestan Jerman, Valentin Weigel, menyebut misteri angka 1 sebagai angka dewa dengan suatu ungkapan yang indah, "Satu adalah sebuah kesimpulan dan konsep dari semua angka, 2, 3, 5, 10, 100, 1000. Karenanya, Anda bisa mengatakan bahwa 1 adalah seluruh angka complicite---yang tergulung---dan 2, 3, 5, 10, 100, 1000 tidak lain hanyalah hamparannya. Saya mengibaratakan Tuhan dengan angka pertama ini dan makhluk dengan angka-angka lain karena Tuhan adalah satu ... dan karena makhluk dengan sendirinya bersifat ganda atau mempunyai dua aspek--satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Tuhan." Seorang mistikus Katolik abad ke-17, Angelus Silesius, menulis:
Gleich wie die Enheit ist in einer jeden Zahl
So ist auch Gott der Ein'in Dingen uberall.
(Hanya karena keesaan berada di setiap angka,
maka Tuhan Yang Maha Esa ada dimana-mana dalam segala sesuatu)
Bagi para mistikus Islam, nilai numerik 1 untuk huruf alif, huruf pertama dalam alfabet Arab, dan huruf pertama dalam nama Allah, secara menakjubkan menawarkan peluang bagi permainan kata-kata dan kiasan untuk segala usia. Tidak cukupkah mengetahui huruf pertama dalam alfabet Arab dan nilai numeriknya, mengingat huruf ini mengandung semua kearifan dan pengetahuan? Orang yang telah mengenal dan mengetahui Tuhan Yang Maha Esa tidak memerlukan lagi selain-Nya.
Subhanallah...
BalasHapus